Skip to main content

KESEMPURNAAN CAHAYA REMBULAN

KESEMPURNAAN CAHAYA REMBULAN

       Malam yang dingin menyapa dalam bayang-bayang. Mengantarkan lubang kerinduan pada sang bulan purnama yang menjelma dalam masalah ibadah sunah seperti halnya; sholat, puasa, senyum dan seterusnya. Memang banyak sekali ibadah sunnah jika kita mau mengamalkannya. Dalam beberapa amalan kesunahan ada yang sering dikenal, bahkan sering dikerjakan seperti puasa Senin, Kamis dan puasa Daud. Namun kali ini ada amalan puasa sunah dimana dalam puasa ini mengiringi gemerlapnya purnama yang sempurna dikala malam menyapa. 
      Setiap tahun bulan-demi bulan kan berlalu seperti halnya bulan Dzulqa’dah di tahun 1441 Hijriyah, dimana dalam bulan Dzulqa’dah terdapat hari yang disunahkan untuk berpuasa dipertengahan bulan pada tahun hijriyah. Hari itu dimana saat bulan bersinar dengan terangnya menyinari alam maya pada ini untuk kedamaian umat manusia. Bagi sebagian orang, mungkin fenomena ini dianggap sebagai fenomena alam biasa dan hari-harinya pun dilalui dengan biasa saja. Tapi lain halnya dengan orang Islam yang memiliki tauhid kuat yang bisa meyakini bahwa  hari tersebut adalah hari yang istimewa, dimana orang Islam telah diberi kesempatan untuk bertemu dengan suatu amal ibadah yang mendapatkan tempat istimewa, yaitu Shaum Ayyamul bidh.

     Puasa Ayyaamul bidh adalah bentuk jamak dari al-yaum yang berarti hari, sedangkan bidh artinya putih. Jadwal Puasa Ayyaamul Bidh artinya adalah hari-hari putih di mana pada tanggal 13,14, dan 15 Hijriyah tersebut terjadi bulan purnama dengan sinar warna putih. Dari hal tersebut, bisa difahami bahwa puasa sunnah ayyamul bidh adalah puasa sunah tiga hari dipertengahan bulan Hijriyah. Puasa Sunnah Ayyamul Bidh sangat dianjurkan, karena memiliki nilai ibadah jika mengamalkannya. Puasa ayyamul bidh bersifat ghayru maqshudah bidzatiha atau puasa yang tidak di niatkan secara langsung. Oleh karena itulah, diperbolehkan untuk menggabungkan niat puasa ketika ingin menjalankan kedua ibadah sunnah lainnya. 
      Hukum mengamalkan puasa ayyamul bidh, bukan mubah, makruh, atau haram akan tetapi malah di hukumi amalan sunnah. Namun, biarpun sunnah, pahalanya tidak kalah besar dengan puasa sunnah lainnya. “Rasulullah menganjurkan kepada para sahabat untuk berpuasa sunah dipertengahan bulan di tahun Qomariah, bukan berdasarkan tahun Masehi,” Dalam hadits Bukhari-Muslim telah di riwayatkan bahwa, orang Islam yang melaksanakan puasa Ayyamul Bidh setiap tanggal 13,14, dan 15 Hijriyah akan diberikan pahala sebesar sepuluh kali lipat. 

      Ketentuan menjalankan puasa ayyamul bidh sama dengan puasa lainnya seperti niat dan menahan haus dan lapar,  serta hawa nafsu mulai dari terbit fajar saat azan Subuh hingga adzan Magrib. Niat puasa sunah ayyamul bidh juga boleh dilakukan saat pagi atau siang hari ketika sudah melewati waktu subuh. “Berbeda dengan puasa Ramadan, niat puasa ramadhan harus di malam hari. Kalau puasa sunah ayyamul bidh boleh di pagi hari. Misalnya, pagi belum makan dan minum serta belum melakukan hal yang membatalkan puasa, boleh dilanjutkan dengan niat berpuasa.” 

      Pelajaran penting dari puasa sunah ayyamul bidh yang bisa kita ambil meliputi; pertama, dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menjelaskan, “Puasa tiga hari setiap bulannya boleh dilakukan pada sepuluh hari pertama, pertengahan bulan atau sepuluh hari terakhir dari bulan Hijriyah, atau pula pada setiap sepuluh hari tadi masing-masing satu hari. Puasa tersebut bisa pula dilakukan setiap pekan satu hari puasa. Ini semuanya boleh dan melakukan puasa tiga hari setiap bulannya ada keluasan melakukannya di hari mana saja. Oleh karena itu, ‘Aisyah mengatakan, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau di awal, pertengahan atau akhir bulan Hijriyah)”.  Kedua, hari yang utama untuk berpuasa  sunah itu pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah yang dikenal dengan ayyamul bidh. 
      Adapun manfaat puasa tiga hari setiap bulan yaitu; pertama, menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, melakukan puasa tiga hari setiap bulannya seperti melakukan puasa sepanjang tahun karena pahala satu kebaikan setara sepuluh kebaikan. Ketiga, memberikan waktu istirahat pada anggota badan setiap bulannya.

Tulungagung, 11 Juli 2020
Pondok Pesantren Panggung Tulungagung
Pukul 10:32 WIB

Comments

Popular posts from this blog

K.H. Asrori Ibrohim Pendiri Pondok Pesantren Panggung Tulungagung

K.H. Asrori Ibrohim Pendiri Pondok Pesantren Panggung Tulungagung K.H. Asrori Ibrohim adalah salah satu tokoh ulama Tulungagung sekaligus   pendiri   pondok pesantren Panggung Tulungagung, K . H. Asrori Ibrahim seorang ulama’ yang faqih, ‘abid, sederhana ‘alim ‘allamah yang sudah bergelut dengan getir dan pahitnya perjalanan kehidupan. K . H. Asrori Ibrahim terkenal dengan kesabarannya dalam memecahkan sebuah masalah yang dihadapi pada kala waktu itu, K . H. Asrori Ibrahim orangnya suka bersilaturahmi kesantri-santrinya dan masyarakat sekitar. [1] Keagungan seorang kiai yang benar-benar dekat dengan Allah Swt, hingga akhir hayatnya pun akan terus terkenang sepanjang masa dan akan terus terasa hidup bagi mereka yang mencintai dan menyayangi kekasiah Allah Swt. Dalam kitab Baghyatul Mustarsyidin halaman 97, diterangkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : Barangsiapa mencatat biografi seorang mukmin maka sama halnya ia menghidupi kembali orang mukmin tadi, barangsiapa ...
  Selamat Hari Kartini Mari Bersama Kita Dorong Semangat Wanita Pesantren (Santri-Santri Putri) Dalam Menghadirkan Ghiroh Perjuangan Raden Adjeng Kartini   Raden Adjeng Kartini adalah s alah satu pahlawan paling fenomenal di Indonesia. Beliau juga dari kalangan  priyayi  atau kelas bangsawan Jawa. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Raden Adjeng Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Raden Adjeng Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat pada mulanya hanyalah seorang wedana di Mayong. Saat kolanial berkuasa, mereka telah merubah sistem sistem yang sudah ada. Hingga akhirnya mau tidak mau Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat harus mematuhi peraturan kolonial. Peraturan waktu itu mengharuskan seorang bupati ber...

GIBAH

GIBAH Seindah luka yang membara Menyala dalam tarian durjana Meniti dalam ayunan nada Berteriak menjilat lautan bara Merintih alunan dosa siapa Bersendawa dengan segudang gibah ria Sayup-sayup alunan angin bercerita Bercerita akan gibah yang menyala Menyala dalam liang dosa