Skip to main content

SANTRI MAHA KARYA KIAI

SANTRI MAHA KARYA KIAI


        Pesanren bukanlah tempat orang yang kolot, minim pengetahuan. Pesantren adalah wadah untuk para kaum santri diajar dan mengajar, karena di pesantrenlah santri adalah maha karya kia. Dimana santri wajib memegang teguh dedikasi dan loyalitas dari kiai untuk bangsa dan negara. Hal itu menjadi visi utama kiai mendidik santri-santrinya untuk mengabdi kepada negeri. Santri menjadi karya kiai tatkala ia mengabdi pada negeri, membangun kedaulatan, kemandirian, keadilan, dan kemakmuran negeri secara berkelanjutan serta mampu menempatkan negeri sebagai mercusuar dunia.
        Seroang kiai memang harus menorahkan karya sejarah tuk peradaban dunia ini tapi tatkala kia tak mampu menghasilkan karya tuk menorehkan sejarah dunia, kiai hanya cukup mendidik santri-santri secara telaten. Melalui ketelatenannya dalam mendidik santri maka itulah manifestasi kiai terhadap duniai ini, karena santri maha karya kiai.  Melalui konsolidasi gerakan kaum santri, menempa berbagai talenta dan skill santri, serta mendorong kepemimpinan dari kaum santri dan menduniakan kaum santri serta mensantrikan dunia. Santri hari ini dan santri di masa yang akan datang harus mampu menjawab tantangan zamannya, memenangkan pertarungan global, dan mengambil peran strategis di segala lini kehidupan sebagai wujud dedikasi tinggi untuk umat, bangsa, dan negara. 
        Itulah maha karya kiai yang tak perlu diperbincangkan dan diragukan akan mahakarya yang adi luhung tuk NKRI. Memang kiai tak berparas rupawan tapi kiai berparas sederhana, dan dari kesederhanaan itulah kaum santri diajarkan akan arti hidup di dunia ini. Karena dunia ini diperuntukan manusia semuanya, tapi dunia ini akan memihak terhadap orang-orang yang alim fakih. Dari situlah kenapa santri derek kiai, karena bumi ini saja tahluk dan tunduk pada kiai kenapa kita sebagai kaum santri sulit tuk mendekat kepada kiai. Memang tuk mendekat saja santri harus membutuhkan perjuangan yang luar biasa dan penuh deraian air mata. Tapi disaat santri tersebut sudah melekat dan menyatu dalam keseharian kiai maka santri tersebut adalah buah karya kiai.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

K.H. Asrori Ibrohim Pendiri Pondok Pesantren Panggung Tulungagung

K.H. Asrori Ibrohim Pendiri Pondok Pesantren Panggung Tulungagung K.H. Asrori Ibrohim adalah salah satu tokoh ulama Tulungagung sekaligus   pendiri   pondok pesantren Panggung Tulungagung, K . H. Asrori Ibrahim seorang ulama’ yang faqih, ‘abid, sederhana ‘alim ‘allamah yang sudah bergelut dengan getir dan pahitnya perjalanan kehidupan. K . H. Asrori Ibrahim terkenal dengan kesabarannya dalam memecahkan sebuah masalah yang dihadapi pada kala waktu itu, K . H. Asrori Ibrahim orangnya suka bersilaturahmi kesantri-santrinya dan masyarakat sekitar. [1] Keagungan seorang kiai yang benar-benar dekat dengan Allah Swt, hingga akhir hayatnya pun akan terus terkenang sepanjang masa dan akan terus terasa hidup bagi mereka yang mencintai dan menyayangi kekasiah Allah Swt. Dalam kitab Baghyatul Mustarsyidin halaman 97, diterangkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : Barangsiapa mencatat biografi seorang mukmin maka sama halnya ia menghidupi kembali orang mukmin tadi, barangsiapa ...
  Selamat Hari Kartini Mari Bersama Kita Dorong Semangat Wanita Pesantren (Santri-Santri Putri) Dalam Menghadirkan Ghiroh Perjuangan Raden Adjeng Kartini   Raden Adjeng Kartini adalah s alah satu pahlawan paling fenomenal di Indonesia. Beliau juga dari kalangan  priyayi  atau kelas bangsawan Jawa. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Raden Adjeng Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Raden Adjeng Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat pada mulanya hanyalah seorang wedana di Mayong. Saat kolanial berkuasa, mereka telah merubah sistem sistem yang sudah ada. Hingga akhirnya mau tidak mau Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat harus mematuhi peraturan kolonial. Peraturan waktu itu mengharuskan seorang bupati ber...

GIBAH

GIBAH Seindah luka yang membara Menyala dalam tarian durjana Meniti dalam ayunan nada Berteriak menjilat lautan bara Merintih alunan dosa siapa Bersendawa dengan segudang gibah ria Sayup-sayup alunan angin bercerita Bercerita akan gibah yang menyala Menyala dalam liang dosa