Skip to main content

SANTRI TERIAK COVID TERISAK

SANTRI TERIAK COVID TERISAK

     Masa pandemik Covid-19 adalah masa yang mencengangkan. Dimana masa pandemik ini banyak berita yang beredar begitu luas keberbagai penjuru hinga sampai kepelosok desa pun masih mengaung penuh berita tersebut. Memang masa pandemik covid-19 ini menjadi momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat di dunia baik itu nyata ataupu tidak. Awal kemunculan covid-19 ini, telah membuat resah  semua negara yang ada dibelahan dunia dan menimbulkan ke khawatiran akan keadaan yang terjadi.

    Hampir semua negara yang ada dibelahan benua dikonsentrasikan untuk menangani wabah Covid 19. Tak lain halnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini, juga dibuat ramai oleh wabah covid-19. Banyak korban jiwa berjatuhan yang membuat semua merasa cemas dan takut terhadap covid-19, sampai pemerintah NKRI pun menetapkan bahwa NKRI dalam status darurat. Maka, Joko Widodo selaku kepala NKRI telah menetapkan beberapa kebijakan melalui menteri-menterinya, mulai dari meliburkan sekolah, perguruan tinggi (pembelajaran daring), WFH (work from home) bagi ASN/karyawan perkantoran, dan menghimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan physichal distancing. 

     Kebijakan presiden RI tentang pandemik covid-19 ini berimbas luas keberbagai wilayah yang ada NKRI. Pondok pesantren pun juga terkena imbasnya dari kebijakan tersebut. Banyak pesantren yang ada di Wilayah Provinsi Jawa Timur ini diliburkan. Alasan dari hal tersebut pertama kita selaku warga NKRI harus menaati kebijakan pemerintah yang sudah ditetapkan, kedua pondok pesantren mengambil sigap dengan tujuan keselamatan yang maslahah. Dari hal tersebut itulah pondok pesantren mulai memulangkang santrinya secara bertahap. Dampak dari kebijakan itu beresahkan santri yang sudah rindu akan kegiatan belajar mengajar yang ada dipesantren. Karena sudah sekian bualan santri tak melakukan aktifitas, banyak dari santri yang mengeluhkan akan keadaan NKRI yang seperti ini,
sampai kapan negara ini akan sembuh?............, aktifitas pesantren dibekukan terlalu lama hingga santri tak kunjung kembali kepesantren ?.....
apakah wabah ini akan segera menghilang?..... 
Ataukah wabah ini justru tanda akan datangnya kiamat sugro ?.......

     Dengan adanya wabah tersebut umat Islam yang ada di NKRI ini di uji oleh Allah, apakah ia kuat imannya atau malah kufur. Kita selaku umat Islam alangkah baiknya jika kita khusnudon kepada Allah terhadap apa yang menimpa diri kita. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk kami para santri yang tidak melakukan aktifitas apa-apa ketika kami dipulangkan. Dalam hati kecil kami berguma "kapan wabah ini berakhir, kami rindu dengan pernak pernik yang ada di pesantren, karena banyak kenangan dan ketenangan batin yang membimbing kami disana. 

     Dengan adanya libur panjang ini, membuat kami para santri jenuh dirumah. Berbulan-bulan lamanya kami para santri tak melakukan apa-apa, walau keadaan NKRI ini carut marut dengan masalah yang dahsyat. Kami selaku santri hanya bisa mendoakan atas apa yang dialamai  NKRI tercinta ini. Dengan adanya kabar gembira akhir-akhir ini dibulan Juni tahun 2020 bahwa presiden NKRI, telah melakukan kebijakan lagi teng aktifitas new normal yang mana saat awal pandemik covid-19 masyarakat dilarang berkerumunan namun maklumat dari larangan tersebut telah dicabut. Dengan mengucab Alhamdulillah, maka agin segar telah sampai pada bilik-bilik pondok pesantren yang sekian lama ditingalkan oleh penghuninya. Akhirnya kami para santri bisa bernafas lega, karena sedikit demi sedikit pondok pesantren sudah mulai berbenah dan membuka diri untuk mengaktifkan kegiatan belajar mengajar. 

     Walaupun sudah diperbolehkan beraktifitas seperti biasanya namun harus mematuhi protokoler yang sudah ditetapkan oleh dinas kesehatan, yang mana dalam kegiatan belajar mengajar harus diberi jarak satu meter, santri wajib memakai masker dan sebelum masuk ruang kelas santri diwajibkan untuk cucitangan terlebih dahulu. Dari sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, itulah ucapan pepatah kuno yang bisa kita teladani. Adanya beberapa pesantren yang sudah beraktifitas membuktikan bahwa pondok pesantren mendukung kebijakan pemerintah secara penuh selama tidak keluar dari garis edar khatulistiwa. Dengan adanya hal tersebut kami selaku santri hanya bisa mengucapkan terimakasih banyak atas ridho yang telah Allah berikan kepada NKRI ini. Jayalah negriku jayalah bangsaku. NKRI harga mati.

Tulungagung, 04 Juli 2020
Pondok Pesantren Panggung Tulungagung
Pukul 21:49WIB

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

K.H. Asrori Ibrohim Pendiri Pondok Pesantren Panggung Tulungagung

K.H. Asrori Ibrohim Pendiri Pondok Pesantren Panggung Tulungagung K.H. Asrori Ibrohim adalah salah satu tokoh ulama Tulungagung sekaligus   pendiri   pondok pesantren Panggung Tulungagung, K . H. Asrori Ibrahim seorang ulama’ yang faqih, ‘abid, sederhana ‘alim ‘allamah yang sudah bergelut dengan getir dan pahitnya perjalanan kehidupan. K . H. Asrori Ibrahim terkenal dengan kesabarannya dalam memecahkan sebuah masalah yang dihadapi pada kala waktu itu, K . H. Asrori Ibrahim orangnya suka bersilaturahmi kesantri-santrinya dan masyarakat sekitar. [1] Keagungan seorang kiai yang benar-benar dekat dengan Allah Swt, hingga akhir hayatnya pun akan terus terkenang sepanjang masa dan akan terus terasa hidup bagi mereka yang mencintai dan menyayangi kekasiah Allah Swt. Dalam kitab Baghyatul Mustarsyidin halaman 97, diterangkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : Barangsiapa mencatat biografi seorang mukmin maka sama halnya ia menghidupi kembali orang mukmin tadi, barangsiapa ...
  Selamat Hari Kartini Mari Bersama Kita Dorong Semangat Wanita Pesantren (Santri-Santri Putri) Dalam Menghadirkan Ghiroh Perjuangan Raden Adjeng Kartini   Raden Adjeng Kartini adalah s alah satu pahlawan paling fenomenal di Indonesia. Beliau juga dari kalangan  priyayi  atau kelas bangsawan Jawa. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Raden Adjeng Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Raden Adjeng Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat pada mulanya hanyalah seorang wedana di Mayong. Saat kolanial berkuasa, mereka telah merubah sistem sistem yang sudah ada. Hingga akhirnya mau tidak mau Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat harus mematuhi peraturan kolonial. Peraturan waktu itu mengharuskan seorang bupati ber...

GIBAH

GIBAH Seindah luka yang membara Menyala dalam tarian durjana Meniti dalam ayunan nada Berteriak menjilat lautan bara Merintih alunan dosa siapa Bersendawa dengan segudang gibah ria Sayup-sayup alunan angin bercerita Bercerita akan gibah yang menyala Menyala dalam liang dosa