Skip to main content

 

MENULIS

 

Pada hari jum’at tanggal enam bulan Agustus tahun dua ribu dua puluh satu, sekitar pukul  16:22 WIB saya mendapatkan pesan dari  sekretaris Sahabat Pena Kita (SPK) Cabang Tulungagung, yang mana isi dari pesan tersebut berisi sebuah pertanyaan “Assalamu’alaikum, bapak apa sudah melakukan konfirmasi pendaftaran untuk kegiatan webinar literasi nasional untuk acara hari sabtu tanggal tujuh bulan Agustus tahun dua ribu dua puluh satu ? .... belum mbak, temanya apa ya ?.... Menjadi Writerpreneur : Antara Peluang dan Tantangan. Apakah bapak besok berkenan untuk mengikuti kegiatan tersebut, jika ada kesulitan dalam pendaftaran bisa menghubungi saya ?.....Siap. Apakah ada HTM kah ?.... oh tidak bapak, khusus anggota SPK Cabang Tulungagung (Gratis). Boleh mintatolong untuk mendaftarkan saya, apa bisa  ?... bisa bapak, ada yang bisa kami bantu lagi ? tidak mbak. Silahkan bapak untuk mendowenload kartu tanda anggota (KTA) nanti akan kami bantu untuk mendaftarkannya. Silahkan bapak baca terlebih dahulu kalimat dibawah ini ;

“Bapak / Ibu anggota SPK Cabang Tulungagung, free alias tidak dipungut HTM alias GRATIS ya untuk mengikuti webinar dari pusat tersebut. Untuk bukti tranfer bisa dikirimkan KTA SPK yang diunggah dari sahabatpenakita.id. Bagi anggota baru yang belum memiliki KTA SPK, silakan disampaikan anggota baru SPK Tulungagung. Jika ada yang ditanyakan, silakan Bapak/Ibu.”

 

Setiap peserta  webinar literasi nasional yang ingin tergabung baik umum atau anggota SPK; baik pusat ataupun cabang memang gratis untuk mengikuti, namun ada satu prasyarat khusus untuk bisa mengikuti kegiatan webinar literasi nasional yaitu; kartu tanda anggota (KTA) SPK, baik pusat ataupun cabang. Dimana hal yang menjadi salah satu persyaratan yang harus diunggah pada formulir pendaftaran adalah mendowenload kartu tanda anggota (KTA) SPK, karena persyaratan untuk mengikuti webinar belum berhasil saya di miliki. Pelan-pelan saya mencoba mengikuti arahan dari  sekretaris Sahabat Pena Kita Cabang Tulungagung, namun saya selalu terjerembab dalam kamus kegagalan. Pada akhirnya, saya untuk memutuskan mencoba mengatasi problem itu seorang diri, hingga akhirnya saya mendapatkan pesan Whatsapp dari  sekretaris Sahabat Pena Cabang Tulungagung, bahwasannya untuk bisa login ;

v  Pendaftaran : klik (https://bit.ly/PendaftaranWebinarSPK)

Untuk persyaratan kartu tanda anggota (KTA) bisa diganti dengan screenshoot grup Whatsapp Sahabat Pena Kita Cabang Tulungagung. Walau pun persyaratan sudah saya kantongi namun hati ini masih bimbang dengan sejuta kegiatan semesta di masyarakat, akhirnya saya memutuskan untuk mengistirahatkan jasad ini dan sekitar pukul 24:30 WIB alarem handphone berbunyi. Darisitulah saya melihat jam di handphone sampai akhirnya saya memutuskan untuk mendaftarkan diri dikegiatan webinar literasi nasional tepat pukul 01:00 WIB, akhirnya saya berhasil login.

Hari sabtu tanggal tujuh bulan Agustus tahun dua ribu dua puluh satu. Sebelum pukul 08.00 WIB berlangsung saya membuka link dan join via zoom untuk bisa bergabung dikegiatan tersebut. Waktu itu saya santai-santai sembari menikmati kopi di pingir sawah dan ternyata apa yang terjadi saudara-saudara, ruang zoom webinar literasi nasional sudah banyak peserta yang hadir. Ada lagi yang membuat saya kaget dimana salah satu pembawa acara, di awal acara webinar literasi nasional ini tak begitu asing, yang mana saya menamatkan wajahnya kayak merasa kenal, siapa ya ?.. eehh ternyata Bu Eka Zahra Pupita Dewi. Saat acara awal dimulai bu Eka membacakan susunan acara mulai pembukaan, menyayikan lagu indonesia  raya, mars sahabat pena kita, sambutan-sambutan dst.  Dari beberapa rangkain acara tibalah saatnya sambutan dari ketua umum Sahabat Pena Kita, ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI), dan disambung dengan sambutan dari Pembina Sahabat Pena Kita yaitu bapak Prof. Dr. Imam Suprayogo.

Belajar dari para pakar literasi di acara webinar literasi nasional ini sungguh memberikan kesan tersendiri. Dimana salah satunya dari para narasumber webinar literasi nasional memberikan kesan dan pesan untuk peserta webinar literasi nasional. Ada sedikit ulasan yang bisa saya tangkap dari pemeparan Prof. Imam Suprayoga, "Janganlah menulis dengan pikiran, tetapi menulislah dengan yang punya pikiran, yang punya otak, yaitu ruh yang ada di hati maka menulislah dengan memakai hati atau perasaan, bukannya mengabaikan pikiran dalam menulis tapi menulis dengan rasa jauh lebih nikmat ketika orang lain membacanya. Jadikanlah menulis sebagai hobby, karena hobby lebih bisa merasakan akan senangan yang ada pada diri ini. Dimana menulis bukan malah menjadi beban tapi sebaliknya”.

Jadi jangan sekali-kali menulis karena pikiran apalagi menulis hanya semata-mata untuk mendapatkan keuntungan secara materi, karena sejatinya menulis itu membuat umur menjadi panjang, meski yang menulis sudah tidak di alam dunia namun tulisan yang sudah pernah ia buat  akan membuat si penulis serasa hidup dan dikenang atas jasanya melalui mahakarya goresan tinta mas pena.

 

Prof. Dr. Imam Suprayogo sering memberikan komentar maupun kritikan tulisan para anggota sahabat pena kita pada namunnya. Namun kritikan itu malah menuai masalah bagi anggota lainya, oleh karena itu tak jarang beliau menemui kehangatan dalam berkritik namun malah dikira memusuhi. Menurut  Prof. Dr. Imam Suprayogo “yang namanya sahabat itu harus saling mengisi dan melengkapi bukan malah membully”. Beliau juga mengapresiasi dua buah mahakarya buku yang terbit dengan judul “Intuisi Mata Elang” dan Kitab Kehidupan” dengan harapan mahakarya tersebut bisa di ambil sebuah pelajaran dalam kehidupan sehari-hari.”

 


Mendengar nama Prof. Mulyadhi tentu tidak asing, Guru Besar UIN Jakarta tersebut memang sosok yang piawai menulis. Saya kadang berpikir apa semua guru besar berlaku demikian pandai menulis, memberi gagasan, cakap bicara, kaya pengetahuan dan lainya. Tapi sepertinya demikian guru besar memang beda dengan sekadar dosen biasa. 
Kedua, Prof. Mulyadhi menyampaikan, "Menulis diawali dari catatan harian, sehingga tak terbebani." Motivasi menulis bagi beliau adalah: untuk mengabadikan hidup, untuk menyampaikan kebenaran, untuk memberi manfaat bagi orang lain dan untuk menaklukkan waktu. Masalah rejeki akan mengikuti. Begitu dalamnya hakikat menulis dari apa yang disampaikan oleh beliau. Menulis tanpa beban....benar sekali...Jangan sekali-kali kita menulis karena keterpaksaan, jadikan menulis itu sesuatu yang menyenangkan, jadikan menulis itu adalah sebuah rekreasi...inshaAllah apapun kondisi kita menulis akan selalu ada pada kita.

 

Bicara tentang menulis tanpa beban, menjadi catatan tersendiri bagi saya. Sebagai seorang istri, ibu dan pengajar, yang tentu saja tak boleh meninggalkan tugas wajibnya tersebut, seringkali mengalami kendala dalam proses kegiatan tulis-menulis. Tak bisa dipungkiri bahwa berulang kali saya tidak 'sempat', tidak 'mood' atau bahkan pas lagi mood tiba-tiba ada saja yang menjadikan kita tidak bisa menulis. Seringkali saat ide sudah memuncak, tinggal menggoreskannya, tetapi ada saja yang menggagalkannya. Mungkin kita agak marah...benar...saya pun demikian, manusia tak luput dari rasa marah. Seketika itu saya akan menyalahkan keadaan...tetapi jika saya kembalikan pada hakikat menulis itu....jika saya menulis tanpa beban, menulis harus dengan hati, inshaAllah rasa marah, jengkel dan lain sebagainya akan hilang. Jika saya bisa menulis dengan hati....saya akan bisa menyelesaikan keduanya. Tugas wajib sebagai istri, ibu dan pengajar bisa saya lakukan, menulis pun tetap bisa saya lakukan, meskipun saya tidak bisa menulis secara full istikomah....minimal saya tetap mau menulis saja adalah hal yang luar biasa. Jadi, di sini saya akan menekankan....MENULIS JANGAN DIBUAT REPOT....hehehe....

 

Ketiga, pak Golagong. Beliau menyampaikan bahwa menulis itu bukan hanya melamun, tetapi menulis adalah kerja intelektual. Saya setuju sekali. Menulis itu mengeluarkan segala kekuatan yang kita miliki, jadi saya sangat membenci pada orang yang meremehkan tentang menulis, meskipun itu hanya menulis status di WA, FB ataupun di medsos lainnya. Pak Golagong juga menyampaikan "menulis itu adalah untuk pengabdian." Benar sekali....Hal ini juga seiring dengan apa yang disampaikan Prof. Mulyadhi, bahwa menulis untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

 

 

Benar kata Mba Wafi selaku moderator jalanya webinar, dalam acara tersebut energi positifnya sangat terasa sekali. Dimulai sejak awal Prof Imam Suprayogo memberikan suntingan motivasinya berupa menulis selama 9 tahun tanpa jeda. Tidak hanya itu Prof Mulyadhi juga tak kalah inspiratif yaitu dengan menulis tangan berbagai macam buku dan terjemah dalam tempo yang singkat. Selain itu Om Gol A Gong yang saya ketahui sejak dan dari buku-buku SD membakar peserta dengan lebih berapi-api.

 

Sangat disayangkan kita bersua hanya lewat zoom, andai acara tersebut terselenggara tatap muka pastinya lebih seru. Saya membayangkan akan berjumpa dengan peserta yang tentunya luar biasa. Mereka pasti satu di antara manusia langka yang diistilahkan Dr. Ngainun Naim, sebagai kelompok yang meyakini bahwa dengan berliterasi dapat mencerahkan dunia. Tidak hanya itu pastinya juga akan merawat ide dengan menulis dan mendiskusikanya.

 

Setelah acara tentu kita punya sebongkah semangat untuk memulai lagi menulis. Berproses tiada henti dan selalu ngangsu kawruh kepada para ahli yang telah berpengalaman dan menarikan penanya. Satu hal lagi yang tak kalah lucu dan menariknya khususon buat para jomblo kata Om Gol A Gong carilah pasangan yang penulis karena pasti hidupnya berwarna.

 


Comments

Popular posts from this blog

K.H. Asrori Ibrohim Pendiri Pondok Pesantren Panggung Tulungagung

K.H. Asrori Ibrohim Pendiri Pondok Pesantren Panggung Tulungagung K.H. Asrori Ibrohim adalah salah satu tokoh ulama Tulungagung sekaligus   pendiri   pondok pesantren Panggung Tulungagung, K . H. Asrori Ibrahim seorang ulama’ yang faqih, ‘abid, sederhana ‘alim ‘allamah yang sudah bergelut dengan getir dan pahitnya perjalanan kehidupan. K . H. Asrori Ibrahim terkenal dengan kesabarannya dalam memecahkan sebuah masalah yang dihadapi pada kala waktu itu, K . H. Asrori Ibrahim orangnya suka bersilaturahmi kesantri-santrinya dan masyarakat sekitar. [1] Keagungan seorang kiai yang benar-benar dekat dengan Allah Swt, hingga akhir hayatnya pun akan terus terkenang sepanjang masa dan akan terus terasa hidup bagi mereka yang mencintai dan menyayangi kekasiah Allah Swt. Dalam kitab Baghyatul Mustarsyidin halaman 97, diterangkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : Barangsiapa mencatat biografi seorang mukmin maka sama halnya ia menghidupi kembali orang mukmin tadi, barangsiapa ...
  Selamat Hari Kartini Mari Bersama Kita Dorong Semangat Wanita Pesantren (Santri-Santri Putri) Dalam Menghadirkan Ghiroh Perjuangan Raden Adjeng Kartini   Raden Adjeng Kartini adalah s alah satu pahlawan paling fenomenal di Indonesia. Beliau juga dari kalangan  priyayi  atau kelas bangsawan Jawa. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Raden Adjeng Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Raden Adjeng Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat pada mulanya hanyalah seorang wedana di Mayong. Saat kolanial berkuasa, mereka telah merubah sistem sistem yang sudah ada. Hingga akhirnya mau tidak mau Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat harus mematuhi peraturan kolonial. Peraturan waktu itu mengharuskan seorang bupati ber...

GIBAH

GIBAH Seindah luka yang membara Menyala dalam tarian durjana Meniti dalam ayunan nada Berteriak menjilat lautan bara Merintih alunan dosa siapa Bersendawa dengan segudang gibah ria Sayup-sayup alunan angin bercerita Bercerita akan gibah yang menyala Menyala dalam liang dosa