Skip to main content

 

PENA KITA

 

Beberapa waktu lalu salah seorang pengurus Sahabat Pena Kita Cabang Tulungagung  mengirim pesan. Ia memberitahukan bahwasanya, untuk seluruh anggota Sahabat Pena Kita Cabang Tulungagung untuk menyetorkan karyanya. Beliau menjelaskan begitu detail apa yang menjadi tugas dan pokok fungsi seorang anggota. Selain itu beliau juga memberikan banyak saran untuk tulisan yang akan disetorkan ke Sahabat Pena Kita Cabang Tulungagung, muali dari artikel/esai/karya terbaiknya. Adapun tema yang di usung dalam kegiatan tulis menulis adalah “Menulis Buku”. Kenapa kok menulis Buku ?....karena menulis bagi saya adalah obat. Menulis bagi saya harus ada sarananya. Jadi apakah yang dimaksut dengan sarana dan apa sarananya dalam menulis ?....Sarana adalah sebuah kegiatan yang berwujud untuk memudahkan si penulis untuk menulis. Sarana yang harus dimiliki oleh seorang penulis itu harus memiliki ZWM (Zona Maktu Menulis) dan ZTM (Zona Tempat Menulis), maka milikilah SKM (Sarana Khusus untuk Menulis). Karena sarana ini bisa berwujud apapun dalam memudahkan penulis untuk menulis.

Sarana itu bisa berupa sebuah komputer (personal computer / PC) di rumah, di kantor, atau laptop, netbook, tablet, ipad, iphone atau apapun, termasuk sarana menulis paling kuno yaitu buku tulis dan pena, atau mesin ketik jadul, atau apapun. Yang penting bagi saya, saya bisa akrab dan mudah untuk menggunakannya. Menulis itu seperti menguraikan catatan kehidupan. Dengan menulis bagi saya ada, seperti halnya apa yang disampaikan oleh bapak Golagong di acara webinar literasi nasional dengan mengusung tema “Menjadi Writerpreneur : Antara Peluang dan Tantangan”. Beliau menjelasan bagaimana menjadi seorang penulis dan apa yang harus dilakukan. Beliau juga menjelaskan bahwa menulis itu bukan hanya melamun, tetapi menulis adalah kerja intelektual. Dengan menulis, bisa menebar benih kekuatan yang tidak bisa disangka-sangka dari mana datangnya. Jadi saya menyanggah dengan ungkapan kurang setuju tatkala ada seseorang yang meremehkan tentang menulis, meskipun itu hanya menulis status di whatshapp, facebook ataupun di media sosial lainnya. Bapak Golagong juga menyampaikan "menulis itu adalah untuk pengabdian."

Jadi sebelum munulis itu harus bisa berfikir rasional. Karena dengan berfikir rasional itu bisa mempermudah buah fikir dalam menangkap sebuah ide atau gagasan yang bisa di terima oleh akal anak manusia. Berfikir rasional itu bisa di contohkan dalam tulisan. Kenapa kok tulisan?.... Karena tulisan itu bukti fisik yang nyata dan bisa dirasa oleh indra penglihatan, selain itu dengan menulis ada sensasi yang tersirat didalamnya. Memang pada saat kita menuangkan ide cerita kita dalam bentuk tulisan, kita terkadang geli untuk membaca tulisan kita sendiri. Terkadang tulisan yang terlihat sederhana itu bisa menjadi daya magnetik tersendiri bagi pembacanya. Terkadang saaat kita menulis, tulisan kita hamburadul serta sulit untuk dibaca si penulis, sampai akhirnya muncul kejengkelan dalam menulis.

Walapun kita menulis dengan energi yang full tapi diasaat sedang menulis tulisan itu sering di hapus dan dirasa kurang sesuai kehendak maka akan terjadi kemandekan. Ingatlah kata orang terdahulu "otak mu bisa menjamah kemana-mana namun jasad mu sudah tak sesuai dengan apa yang otak mu kehendaki". Jadi menulisan dengan hati, karena menulis itu bisa menorehkan makna asyik yang bisa diselami dari berbagai aspek. Selain itu kegiatan tulis menulis itu memiliki daya magnetik untuk para pecandu tulisan baik sang penulis atau pun sang pembaca. Daya magnetik acapkali tidak bisa diterka baik atau buruk. Sehingga penulis atau pembaca bisa menemukan relevansi akan sebuh korelasi kesesuain baik teks, kalimat, dan paragraf dari tulisan itu sendiri yang akan menjadi sumber perubahan dalam kehidupan berkarya.

Tulisan itu memiliki inti dari berbagai lapisan inti, apa pun bentuknya asal uraian kalimatnya bisa menebarkan sisipositif baik rekaman, riset jejak langkah kehidupan atau lainnya. Memang sulit-sulit mudah untuk menuangkan pupuk organik kedalam pikiran baik itu ilmiah atau non ilmiah. Jangan menuangkan pemikiran dalam tulisan yang rumit, sehingga membuat pembaca dan penulis berkelimpungan kebinggungan akan hal-hal sederhana. Menulis itu mengajarkan tentang kesabaran, keteguhan, ketenangan dan tidak mudah menyerah. Lewat tulis-menulislah biasanya saya bisa mengambarkan apa yang disenangi dan masih banyak lagi tantangan yang harus ditundukkan saat rasa penasaran ini bergelora. "Menulislah dan jangan pernah berhenti, serta percayalah pada proses. Jika  sang penulis percaya pada kegagalan maka kesuksesan yang tertunda bisa diraih. Menulis itu memang harus ada rentang waktu karena disitulah jiwa kita terasah dan terbiasa".

Menulis itu hasil jerih payah akan usaha si penulis dalam menorehkan karya dalam bentuk karya tulis-menulis. Menulis itu sederhana. Sesungguhnya sebuah tulisan adalah hasil dari pada buah perjuangan dalam melawan kemalasan dalam menundukkan waktu. Orang yang bisa menulis adalah seorang pejuang waktu. Lewat kerja keras itu bisa menghasilkan umur panjang yang bisa melampaui kekuatan lisan. Menulis itu sebenarnya bisa mengabadikan pesan layaknya cerita cinta laila dan majnun yang bisa kita nikmati ceritanya sampai sekarang ini. Seorang penulis yang baik akan sering menulis sesuai kebutuhan serta kemampuannya. Sebuah tulisan yang seharusnya didudukkan dan dioposisikan sesuai konteks yang tepat sesuai target sasaran. Catatan perjalanan, misalnya, sangat bermanfaat untuk rekam jejak petualang yang pernah dilakukan si penulis. Rekam jejak petualangan si penulis bisa menjadi sumber rujukan akan informasi yang inspiratif. Mungkin saja bagi si penulis tulisan yang ia tulis itu sederhana, namun memungkinkan untuk bisa istimewa tatkala ada pembaca yang mengistimewakan. Tugas seorang penulis itu menulis. Mari terus menerus menulis untuk mengabdi pada negeri.

Saya menulis untaian kalimat diatas ini bukan dari sebuah rujukan buku-buku, namun semuanya itu hasil dari pada menulis tanpa beban, menjadi catatan tersendiri bagi saya. Memang saat proses menulis berlangsung saya sendiri seringkali mengalami kendala dalam proses kegiatan tulis-menulis. Tak bisa dipungkiri bahwa berulang kali saya tidak 'sempat', tidak 'mood' atau bahkan pas lagi mood tiba-tiba ada saja yang menjadikan saya kurang bisa konsentrasi untuk bisa menulis. Seringkali juga saat ide sudah memuncak, tinggal menggoreskannya, tetapi ada saja yang menggagalkannya. Mungkin itu dipengaruhi oleh mood yang agak kurang baikseperti marah...benar...saya sendiri pun demikian, manusia tak luput dari rasa marah. Seketika itu saya akan bisa menyalahkan keadaan...tetapi jika saya kembalikan pada hakikat menulis itu....jika saya menulis tanpa beban, menulis harus dengan hati, insya’allah rasa marah, jengkel dan lain sebagainya akan hilang. Jika saya bisa menulis dengan hati....saya akan bisa menyelesaikan keduanya. Walaupun tugas wajib saya segudang, namun saya bisa melakukannya, menulis pun tetap bisa saya lakukan, meskipun saya tidak bisa menulis secara full istikomah....minimal saya tetap mau menulis saja adalah hal yang luar biasa.

Ahmad Saifudin adalah santri Pondok Pesantren Panggung Putra Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Lahir pada tahun 1993 di Kabupaten Trenggalek. Sekarang bermukim di Pondok Pesantren Panggung Putra Tulungagung, Jln. Pangeran Dipenogoro 151, Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung. Mulai aktif menulis ketika ada pelatihan di pondok pesantren sekitar tahun 2018, bergabung di grup whatshaap Sahabat Pena Kita Cabang Tulungagung sekitar tahun 2018  dan belum memiliki pengalaman luas tentang dunia literrasi. Bisa dibilang dunia literasi ini adalah dunia dadakan. Karena, dulunya sama sekali tidak tertarik dengan dunia literasi. Tetapi, semangat menulis itu mencul secara tiba-tiba, entah apa yang membuat berusaha menjadi pegiat litersi. Sampai akhirnya berfikir tuk berkecimpung ke dunia literasi dengan harapan coba-coba berhadiyah demi untuk menambah pengalaman dengan harapan tulisan tersebut makin membaik.

Comments

Popular posts from this blog

K.H. Asrori Ibrohim Pendiri Pondok Pesantren Panggung Tulungagung

K.H. Asrori Ibrohim Pendiri Pondok Pesantren Panggung Tulungagung K.H. Asrori Ibrohim adalah salah satu tokoh ulama Tulungagung sekaligus   pendiri   pondok pesantren Panggung Tulungagung, K . H. Asrori Ibrahim seorang ulama’ yang faqih, ‘abid, sederhana ‘alim ‘allamah yang sudah bergelut dengan getir dan pahitnya perjalanan kehidupan. K . H. Asrori Ibrahim terkenal dengan kesabarannya dalam memecahkan sebuah masalah yang dihadapi pada kala waktu itu, K . H. Asrori Ibrahim orangnya suka bersilaturahmi kesantri-santrinya dan masyarakat sekitar. [1] Keagungan seorang kiai yang benar-benar dekat dengan Allah Swt, hingga akhir hayatnya pun akan terus terkenang sepanjang masa dan akan terus terasa hidup bagi mereka yang mencintai dan menyayangi kekasiah Allah Swt. Dalam kitab Baghyatul Mustarsyidin halaman 97, diterangkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : Barangsiapa mencatat biografi seorang mukmin maka sama halnya ia menghidupi kembali orang mukmin tadi, barangsiapa ...
  Selamat Hari Kartini Mari Bersama Kita Dorong Semangat Wanita Pesantren (Santri-Santri Putri) Dalam Menghadirkan Ghiroh Perjuangan Raden Adjeng Kartini   Raden Adjeng Kartini adalah s alah satu pahlawan paling fenomenal di Indonesia. Beliau juga dari kalangan  priyayi  atau kelas bangsawan Jawa. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Raden Adjeng Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Raden Adjeng Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat pada mulanya hanyalah seorang wedana di Mayong. Saat kolanial berkuasa, mereka telah merubah sistem sistem yang sudah ada. Hingga akhirnya mau tidak mau Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat harus mematuhi peraturan kolonial. Peraturan waktu itu mengharuskan seorang bupati ber...

GIBAH

GIBAH Seindah luka yang membara Menyala dalam tarian durjana Meniti dalam ayunan nada Berteriak menjilat lautan bara Merintih alunan dosa siapa Bersendawa dengan segudang gibah ria Sayup-sayup alunan angin bercerita Bercerita akan gibah yang menyala Menyala dalam liang dosa